Welcome!!

Welcome students! atau siapapun yang mengakses blog ini. Ini hanya sebuah blog kecil berisi pembelajaran geografi yang oleh seorang guru yang masih perlu banyak belajar dan mengembangkan diri dalam pembelajaran geografi. semoga blog ini dapat menjadi media info dan bahan untuk sharing pembelajaran geografi bagi kita semuanya.

Rabu, 10 Februari 2016

Mitigasi dan Adaptasi Bencana Letusan Gunung Api

Pengertian Letusan Gunung Api
Gunung api adalah bentuk timbunan (kerucut dan lainnya) di  permukaan bumi yang dibangun oleh timbunan rempah letusan atau tempat munculnya batuan lelehan (magma) yang berasal dari bagian dalam bumi. Sedangkan letusan gunung api merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”.
Hampir semua kegiatan gunungapi berkaitan dengan zona kegempaan aktif sebab berhubungan dengan batas lempeng. Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui rekahan-rekahan mendekati permukaan bumi.


Ciri-ciri Gunung api yang Akan Meletus
Jika tinggal di daerah dekat gunung api, amati ciri-ciri berikut ini agar dapat mewaspadai bencana letusannya:
·         Suhu di sekitar gunung naik.
·         Mata air menjadi kering.
·         Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang disertai getaran (gempa).
·         Tumbuhan di sekitar gunung layu.
·         Binatang di sekitar gunung gelisah dan bermigrasi menuruni gunung.

Mekanisme Perusakan
Bahaya letusan gunung api dibagi dua berdasarkan waktu kejadiannya, yaitu bahaya utama (primer) dan bahaya ikutan (sekunder). Kedua jenis bahaya tersebut masing‐masing mempunyai resiko merusak dan mematikan.
1)       Bahaya Utama (primer)
Bahaya utama (sering juga disebut bahaya langsung) letusan gunung api adalah bahaya yang langsung terjadi ketika proses peletusan sedang berlangsung. Jenis bahaya tersebut adalah awan panas (piroclastic flow), lontaran batu (pijar), hujan abu lebat, leleran lava (lava flow), dan gas beracun. 
2)       Bahaya Ikutan (sekunder)
Bahaya ikutan letusan gunung api adalah bahaya yang terjadi setelah proses peletusan berlangsung. Bila suatu gunungapi meletus akan terjadi penumpukan material dalam berbagai ukuran di puncak dan lereng bagian atas. Pada saat musim hujan tiba sebagian material tersebut akan terbawa oleh air hujan dan tercipta adonan lumpur turun ke lembah sebagai banjir bebatuan, banjir tersebut disebut lahar.

Upaya Mitigasi dan Pengurangan Risiko Bencana
Berbagai upaya dapat dilakukan untuk menghindari, atau meminimalkan korban (jiwa dan harta) akibat letusan gunung api.
Sebelum Krisis/Letusan
·       Mengamati kegiatan gunung api setiap saat. Upaya ini dapat dilakukan dari tempat yang permanen, misalnya pos pengamatan gunung api. 
·         Menentukan status kegiatan gunung api.
·   Melakukan pemetaan geologi untuk mengetahui sejarah kegiatan suatu gunung api di masa lalu dan penelitian ilmiah secara temporer dan berkala.
·        Melakukan pemetaan kawasan rawan bencana. Upaya ini berguna untuk menentukan suatu wilayah atau areal yang berbahaya atau aman  untuk dihuni atau digarap sebagai lahan pertanian dan sebagainya. 
·     Membuat saluran untuk mengarahkan aliran lahar agar tidak melanda pemukiman, kebun/persawahan, atau fasilitas lainnya.
·    Menentukan lokasi pengungsian dan jalur evakuasi dari pemukiman ke pengungsian untuk memudahkan evakuasi apabila terjadi erupsi.
·         Menyediakan alat transportasi bagi penduduk bila ada perintah pengungsian.
·         Memberikan sosialisasi dan simulasi evakuasi apabila sewaktu-waktu terjadi erupsi.

Saat Krisis/Letusan
·         Memberangkatkan tim tanggap darurat ke lokasi bencana. 
·         Meningkatkan pengamatan terhadap aktivitas gunung api tersebut.
·   Menentukan status kegiatan gunung api dan melaporkannya secara berkala sehingga bisa memberikan rekomendasi kepada Pemprov/Pemkab untuk mengakomodasi evakuasi penduduk. 

Setelah Krisis/Letusan
·         Menurunkan status kegiatan gunung api.
·         Menginventarisir data letusan termasuk sebaran dan volume material letusan. 
·         Mengidentifikasi daerah yang terancam bahaya sekunder (lahar).
·    Memberikan rekomendasi teknis kepada Pemprov/Pemkab, termasuk pengembalian pengungsi dan potensi ancaman lahar.


Apa yang harus dilakukan ketika terjadi letusan gunung api?
ü Memperhatikan arahan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan instansi yang berwenang terkait dengan perkembangan aktivitas gunung api.
ü  Persiapkan masker dan kacamata pelindung untuk mengantisipasi debu vulkanik.
ü  Mengetahui jalur evakuasi dan shelter yang telah disiapkan oleh pihak berwenang.
ü  Memperhatikan skenario evakuasi lain apabila dampak letusan meluas di luar prediksi ahli.
ü  Persiapkan dukungan logistik, seperti:
      Makanan siap saji dan minuman
      Lampu senter dan baterai cadangan
      Uang tunai secukupnya
      Obat-obatan khusus sesuai pemakaian


Need to Know!!

Status Gunung Api memiliki beberapa tingkatan. Hal ini terkait dengan aktivitas gunung api tersebut.
AWAS
·      Menandakan gunung berapi yang segera atau sedang meletus. Letusan pembukaan dimulai dengan abu dan asap, berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam.
·      Wilayah yang terancam bahaya direkomendasikan untuk dikosongkan.
SIAGA
·     Menandakan gunung berapi yang sedang bergerak ke arah letusan atau menimbulkan bencana. Peningkatan intensif kegiatan seismik, data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana, letusan dapat terjadi dalam waktu 2 minggu. Sosialisasi di wilayah terancam.
WASPADA
·       Ada aktivitas apa pun bentuknya, terdapat kenaikan aktivitas di atas level normal. Peningkatan aktivitas seismik dan kejadian vulkanis lainnya. Sedikit perubahan aktivitas yang diakibatkan oleh aktivitas magma, tektonik dan hidrotermal.
NORMAL
·         Tidak ada gejala aktivitas tekanan magma. Level aktivitas dasar, pengamatan rutin, survei dan penyelidikan.



http://bnpb.go.id
BNPB. 2012. Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana. Badan Penanggulangan Bencana : Jakarta Pusat.
Nugroho, Eko Sapto, dkk. 2013. Geografi Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial untuk SMA/MA Kelas X. Mediatama : Surakarta.
Nugroho, Sutopo Purwo. Kontribusi Geografi dalam Membangun Ketahanan Bencana. (Power Point). Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.
Sugiyanto, Danang Endarto. 2014. Mengkaji Ilmu Geografi 1 untuk Kelas X SMA dan MA Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Platinum : Solo.
Syahrudin. 2014. Pencegahan dan  Kesiapsiagaan  dalam Menghadapi Bencana di Kota Banjarmasin. (Power Point. Disampaikan pada Sosialisasi Upaya Penanggulangan Resiko Bencana bagi Kepala Sekolah dan Guru di Kota Banjarmasin pada 13 November 2014).
Tim Penulis. 2007. Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia. Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (BAKORNAS PB) : Jakarta.

Mitigasi dan Adaptasi Bencana Tanah Longsor

Selain banjir, pada musim hujan sering terjadi bencana tanah longsor. Hal ini terjadi karena daerah-daerah yang kemiringan lerengnya cukup curam tidak dapat menahan pergerakan massa tanah/batuan pada saat hujan deras terjadi. Mari kita kenali lebih jauh tentang tanah longsor ini agar dapat terhindar dari bencana satu ini.


Pengertian Tanah Longsor
Umumnya masyarakat menyebut gerakan tanah sama dengan longsor. GERAKAN TANAH (masswasting) mencakup semua jenis perpindahan (pergerakan) massa tanah atau batuan menuruni lereng, akibat kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut terganggu. Sedangkan LONGSOR adalah proses perpindahan massa tanah/batuan pada lereng melalui bidang gelincir lengkung atau lurus yang terjadi karena ada gangguan kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng. Dengan demikian, longsor merupakan salah satu jenis gerakan tanah.

Gejala dan Peringatan Dini
Longsor dapat terjadi dengan gejala-gejala sebagai berikut:
        Muncul retakan memanjang atau lengkung pada tanah atau pada konstruksi bangunan yang biasa terjadi setelah hujan. 
        Terjadi penggembungan pada lereng atau pada tembok penahan.  
       Tiba‐tiba pintu atau jendela rumah sulit dibuka, kemungkinan akibat deformasi bangungan yang terdorong oleh massa tanah yang bergerak. 
        Tiba‐tiba muncul rembesan atau mata air pada lereng.
    Apabila pada lereng sudah terdapat rembesan air/mata air, air tersebut tiba-tiba menjadi keruh bercampur lumpur.
        Pohon‐pohon atau tiang‐tiang miring searah kemiringan lereng. 
        Terdengar suara gemuruh atau suara ledakan dari atas lereng.
        Terjadi runtuhan atau aliran butir tanah/kerikil secara mendadak dari atas lereng.

Wilayah-wilayah yang rawan akan tanah longsor:
        Pernah terjadi bencana tanah longsor di wilayah tersebut.
        Berada pada daerah yang terjal dan gundul.
        Merupakan daerah aliran air hujan.
        Tanah tebal atau sangat gembur pada lereng yang menerima curah hujan tinggi.

Upaya Mitigasi dan Pengurangan Risiko Bencana
         Hindarkan daerah rawan bencana untuk pembangunan permukiman dan fasilitas utama lainnya. 
         Mengurangi tingkat keterjalan lereng. 
   Pemeliharaan drainase untuk menjauhkan air dari lereng, menghindari air meresap ke dalam lereng atau menguras air dalam lereng ke luar lereng.
         Terasering dengan sistem drainase yang tepat.
         Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang tepat.
         Identifikasi dan pengenalan daerah yang rawan longsor.
         Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall). 
         Penutupan rekahan-rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat ke dalam tanah. 


Apa yang harus dilakukan sebelum terjadi tanah longsor?
ü  Waspada terhadap curah hujan yang tinggi.
ü  Persiapkan dukungan logistik, seperti:
      Makanan siap saji dan minuman
      Lampu senter dan baterai cadangan
      Uang tunai secukupnya
      Obat-obatan khusus sesuai pemakaian
ü  Simak informasi dari pihak berwenang mengenai informasi hujan dan kemungkinan terjadinya tanah longsor.
ü  Apabila pihak berwenang menginstruksikan untuk evakuasi, segera lakukan hal tersebut.



http://bnpb.go.id
BNPB. 2012. Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana. Badan Penanggulangan Bencana : Jakarta Pusat.
Nugroho, Eko Sapto, dkk. 2013. Geografi Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial untuk SMA/MA Kelas X. Mediatama : Surakarta.
Nugroho, Sutopo Purwo. Kontribusi Geografi dalam Membangun Ketahanan Bencana. (Power Point). Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.
Sugiyanto, Danang Endarto. 2014. Mengkaji Ilmu Geografi 1 untuk Kelas X SMA dan MA Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Platinum : Solo.
Syahrudin. 2014. Pencegahan dan  Kesiapsiagaan  dalam Menghadapi Bencana di Kota Banjarmasin. (Power Point. Disampaikan pada Sosialisasi Upaya Penanggulangan Resiko Bencana bagi Kepala Sekolah dan Guru di Kota Banjarmasin pada 13 November 2014).
Tim Penulis. 2007. Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia. Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (BAKORNAS PB) : Jakarta.

Mitigasi dan Adaptasi Bencana Banjir

Musim hujan sudah tiba. Setiap hari pun di media massa kita mendapat informasi tentang bencana banjir yang turun akibat intensitas hujan yang cukup tinggi di berbagai wilayah di Indonesia. Semoga kita terlepas dari bencana banjir dan daerah-daerah yang terdampak segera pulih dari bencana ini.


Pengertian Banjir
Ada dua pengertian mengenai banjir:
1.  Aliran air sungai yang tingginya melebihi muka air normal sehingga melipas dari palung sungai dan menyebabkan adanya genangan pada lahan rendah di sisi sungai.
2.  Gelombang banjir berjalan ke arah hilir sistem sungai yang berinteraksi dengan kenaikan muka air di muara akibat badai.
Adapun banjir terbagi menjadi 3 kategori, yaitu banjir (genangan), banjir bandang, dan banjir rob yang terjadi akibat naiknya permukaan air laut.

Faktor Penyebab Terjadinya Banjir
Banjir dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:
         Permukaan tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut.
         Terletak pada suatu cekungan yang dikelilingi perbukitan dengan pengaliran air keluar sempit.
         Banyak pemukiman yang dibangun pada dataran sepanjang sungai.
         Aliran sungai tidak lancar akibat banyaknya sampah.
         Kurangnya tutupan patahan di daerah hulu sungai.
       Curah hujan di atas normal sehingga sistem pengaliran air tidak mampu menampung akumulasi air hujan dan akhirnya meluap.
       Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan (catchment area) sehingga memicu terjadinya erosi pada lahan curam yang menyebabkan sedimentasi di sistem pengaliran air dan wadah air lainnya.

Gejala dan Peringatan Dini
Datangnya banjir diawali dengan gejala-gejala sebagai berikut:
   Curah hujan yang tinggi pada waktu yang lama merupakan peringatan akan datangnya bencana banjir di daerah rawan bencana banjir.
       Tingginya pasang laut yang disertai badai mengindikasikan datangnya bencana banjir beberapa jam kemudian terutama untuk daerah yang dipengaruhi pasang surut.
       Evakuasi dapat dimulai dengan telah disamai atau dilampuinya ketinggian muka banjir tertentu yang disebut muka banji/air  ”siaga”. Upaya evakuasi akan efektif jika dilengkapi dengan sistem monitoring dan peringatan yang memadai.

Upaya Mitigasi dan Pengurangan Risiko Bencana
Bencana banjir mengakibatkan kerugian berupa korban manusia dan harta benda, baik milik perorangan maupun milik umum yang dapat mengganggu bahkan melumpuhkan kegiatan sosial ekonomi penduduk. Oleh karena itu, diperlukan upaya mitigasi dan pengurangan dampak bencana banjir, seperti:
    Memonitor dan mengevaluasi data curah hujan, banjir, daerah genangan dan informasi lain yang diperlukan untuk meramalkan kejadian banjir. 
      Menyiapkan peta daerah rawan banjir dilengkapi dengan “plotting” rute pengungsian, lokasi POSKO, dan lokasi pos pengamatan ketinggian muka air di sungai penyebab banjir. 
       Melaksanakan pendidikan masyarakat atas pemetaan ancaman dan resiko banjir.
       Pembangunan tembok penahan dan tanggul di sepanjang sungai.
       Pengerukan dan pembuatan sudetan sungai. 
       Tidak membuang sampah/limbah padat ke sungai dan sistem drainase.
       Tidak membangun jembatan dan atau bangunan yang menghalangi aliran sungai.
       Tidak menggunakan dataran  banjir untuk permukiman atau hal lain diluar peruntukkannya;  
       Menghentikan penggundulan hutan di daerah tangkapan air, serta praktek pertanian dan penggunaan lahan yang bertentangan dengan kaidah‐kaidah konservasi air  dan tanah. 
        Mengadakan gotong‐royong pembersihan saluran drainase di lingkungan masing‐masing.


Apa yang harus kita lakukan ketika terjadi banjir?
ü  Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk mematikan aliran listrik yang terkena bencana.
ü  Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan untuk diseberangi.
ü  Hindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus banjir.
ü  Segera mengamankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.
ü  Jika air terus meninggi, hubungi instansi yang terkait dengan penanggulangan bencana seperti Kantor Kepala Desa, Lurah atau Camat, dan BPBD.



http://bnpb.go.id
BNPB. 2012. Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana. Badan Penanggulangan Bencana : Jakarta Pusat.
Nugroho, Eko Sapto, dkk. 2013. Geografi Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial untuk SMA/MA Kelas X. Mediatama : Surakarta.
Nugroho, Sutopo Purwo. Kontribusi Geografi dalam Membangun Ketahanan Bencana. (Power Point). Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.
Sugiyanto, Danang Endarto. 2014. Mengkaji Ilmu Geografi 1 untuk Kelas X SMA dan MA Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Platinum : Solo.
Syahrudin. 2014. Pencegahan dan  Kesiapsiagaan  dalam Menghadapi Bencana di Kota Banjarmasin. (Power Point. Disampaikan pada Sosialisasi Upaya Penanggulangan Resiko Bencana bagi Kepala Sekolah dan Guru di Kota Banjarmasin pada 13 November 2014).
Tim Penulis. 2007. Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia. Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (BAKORNAS PB) : Jakarta.

Minggu, 05 Februari 2012

Gunung Kinabalu, Titik Tertinggi di Pulau Kalimantan

Sering kali aku bertanya pada siswa-siswaku, gunung apakah yang tertinggi di Kalimantan? Sayangnya, banyak yang tahu meski mereka lahir dan tumbuh besar di Pulau Kalimantan. Mungkin karena gunung ini tidak berada di Kalimantan Selatan, juga bukan bagian dari Indonesia, sehingga mereka tidak mengetahuinya.


Kalimantan memang tidak seperti pulau-pulau besar lainnya di Indonesia yang banyak memiliki gunung berapi. Pegunungannya pun tidak menjulang tinggi seperti pegunungan di kawasan Indonesia lainnya. Meskipun begitu, ada satu gunung yang mempunyai puncak justru lebih tinggi dari gunung-gunung lainnya di Indonesia. Gunung Kinibalu namanya.

Gunung Kinabalu terletak di sebelah utara pulau Kalimantan, tepatnya di Taman Nasional Kinabalu, Sabah, Malaysia. Taman ini berjarak 90 km dari kota Kinabalu,dapat ditempuh dengan menggunakan minibus jurusan Kinabalu – Ranau turun di Taman Nasional Kinabalu.

Dijuluki sebagai "Puncak Borneo", Kinabalu merupakan gunung yang menjulang di atas dataran pantai barat laut Sabah dan berada di antara dua gunung "pengawal" yang mengapit, yakni Tambuyukon (2.576 meter) dan Trus Madi (2.597 meter).

Menurut penelitian, Kinabalu merupakan "gunung non-api" termuda di dunia yang telah terbentuk penuh. Gunung ini merupakan hasil intrusi granit yang terbentuk 15 juta tahun lalu oleh suatu bola raksasa yang mengeras dari batuan meleleh (pluton) yang tertekan di bawah batuan endapan kala Jajaran Croker. Oleh gerakan-gerakan tektonik sejuta tahun lalu, pluton tersebut kemudian terdesak ke atas guna menyusun badan gunung.

Gunung Kinabalu terbentuk dari tumbukan litosfera Laut China Selatan dan litosfera yang membentuk Pulau Kalimantan. Litosfera adalah bagian paling atas permukaan kerak bumi. Dalam tumbukan itu, litosfera Laut Cina Selatan semakin tenggelam ke bawah permukaan bumi dan memberi tekanan kepada litosfera yang membentuk Pulau Kalimantan. Tekanan itu mendorong bongkahan Gunung Kinabalu yang terletak di bawah permukaan bumi naik ke atas permukaan bumi. Dorongan itu terus berlanjut sampai sekarang sehingga Gunung Kinabalu tumbuh setengah centimeter setiap tahunnya. Hal ini tentu tidak dapat dilihat dengan secara kasat mata.

Tinggi Gunung Kinabalu dulu diduga lebih tinggi dari tinggi yang sekarang, yaitu antara lima hingga delapan kilometer (km). Tetapi kikisan yang terjadi selama jutaan tahun, menyebabkan tinggi Gunung Kinabalu sekarang hanya berkisar 4,094 meter dpl.

(Sumber: Wikipedia dan Indonesia Life)

Senin, 12 Desember 2011

Bulan Kesiangan

Beberapa hari ini (saat bulan sedang purnama/tengah bulan pada kalender kamariah), jika menengok ke langit pagi kita mungkin akan melihat bulan masih terlihat enggan kembali ke peraduannya. Meski tidak memancarkan (memantulkan cahaya matahari, tepatnya) warna kekuningan, tetap saja bulan terlihat indah untuk dipandang.

Umumnya, kedudukan bulan-bumi-matahari menyebabkan bulan selalu terlihat dari bagian bumi yang sedang mengalami malam hari. Namun, adakalanya kedudukan bulan-bumi-matahari berubah sedemikian rupa, sehingga bulan bisa terlihat dari bagian bumi yang sedang mengalami siang hari. Fenomena ini sering disebut dengan istilah 'Bulan Kesiangan'.

Di saat seperti ini, meskipun terlihat pucat dan tipis, tetapi bulan tidak sepenuhnya tertelan oleh cahaya matahari. Ini dikarenakan kedudukan bulan masih cukup dekat (dengan bumi) untuk bisa terlihat meskipun agak samar.

Fenomena ini cukup sering bisa kita nikmati. Tapi tetap saja jika kita menyempatkan diri untuk sejenak memandanginya, seperti sebuah kenikmatan yang menyejukkan. Allah memang Maha Besar.

bahan bacaan: Komik Sains 'Astronomi' level 1
gambar: via mbah google *bukan hasil jepretan sendiri (^o^v

Senin, 29 November 2010

Anggota Jagat Raya

-- Galaksi --
adalah sistem perbintangan yang maha luas dimana terdapat milyaran bintang dan benda langit lainnya yang beredar mengelilingi pusat dengan gerakan teratur.

Ciri-ciri Galaksi:
 Semua galaksi memiliki inti dari sistem galaksi
 Seluruh sistem yang terdapat pada galaksi melakukan rotasi
 Galaksi memiliki cahaya sendiri, bukan cahaya pantulan
 Galaksi memiliki bentuk tertentu
 Galaksi-galaksi hanya terlihat di luar jalur Galaksi Bimasakti

Edwin Hubble pada tahun 1925 mengklasifikasikan galaksi berdasarkan bentuknya, menjadi:
 Bentuk Spiral (S)
 Bentuk Elips (E)
 Bentuk tak beraturan
Gambar 1. Teropong Hubble


1. Galaksi Bentuk Spiral (S)
Ciri-ciri:
a) terlihat seperti pusaran api raksasa
b) mempunyai struktur yang teratur seperti Bima Sakti dan M31 di Andromeda
c) mempunyai 3 bagian, yaitu:
- pusat roda
- selubung bulat yang membungkus pusat, terdiri dari bintang dan gugus bintang
- piringan dengan lengan spiral yang mengelilingi pusat di daerah khatulistiwa.
d) Jumlahnya meliputi 80% dari semua galaksi yang diketahui. Bentuk galaksi spiral pusatnya tidak bulat, tetapi berbentuk cerutu dan kedua ujungnya terjulur
Gambar 2. Galaksi Bentuk Spiral

2. Galaksi Bentuk Elips (E)
Ciri-ciri:
a) terlihat seperti bola lonjong besar yang bersinar
b) terdiri dari bagian pusat roda dan selubung di sekelilingnya
c) bentuknya agak pipih, kerapatan bintang pada pusatnya tergantung gravitasi massanya
d) jumlahnya + 17 % dari semua galaksi yang diketahui


Gambar 3. Galaksi Bentuk Elips


3. Galaksi Bentuk Tak Beraturan
Ciri-ciri:
a) terlihat sebagai gumpalan datar atau onggokan bintang yang semakin menebal
b) Jumlahnya kurang dari 3% semua galaksi yang diketahui



Gambar 4. Galaksi Bentuk Tak Beraturan

Contoh galaksi:
---> Galaksi Bima Sakti (Milky Way) <---
Keadaan Galaksi Bima sakti
 Corak dan strukturnya berbentuk spiral dengan massa bintang + 100 milyar massa Matahari.
 Dilihat dari pinggir, bentuknya seperti keping (cakram) dengan porosnya sebagai intinya.
 Garis tengah sekitar 100.000 tahun cahaya dan tebalnya 3.000 – 15.000 tahun cahaya di pusatnya.
 Matahari dan bintang-bintang lain merupakan “sistem lokal”, beredar mengelilingi intinya dengan kecepatan 450 km/detik dalam waktu 225 juta tahun (1 tahun kosmis) untuk sekali berputar lengkap.
 Matahari kita terletak agak di bagian tepi, berada pada jarak 30.000-35.000 tahun cahaya dari pusat galaksi.
 Bima Sakti menunjukkan gerak rotasi pada intinya.

---> Galaksi Andromeda (M31 atau Messier 31) <---
Galaksi Andromeda berjarak + 2 juta tahun cahaya dari galaksi bimasakti.
Galaksi ini berbentuk spiral dengan keunikan, yaitu:
 pusat galaksi tidak terurai menjadi bintang-bintang terpisah
 gugus bulatnya lebih redup empat kali dibandingkan Bima Sakti
 inti pusat galaksi sangat terang dan berwarna putih, di sekitarnya terdapat gugus bintang yang sudah tua dan berwarna merah jambu
 memiliki tujuh buah lengan yang membelit ketat dan tergores dengan debu yang bercahaya biru

---> Galaksi Roda Biru (Blue Pin Wheel) M33 <---
Galaksi ini berbentuk spiral kecil. Jaraknya 2 juta tahun cahaya. Pada galaksi ini terdapat bintang Nova Maha Raksasa dan Cepheid.

---> Galaksi Pusaran Air (M51) <---
Termasuk galaksi spiral yang di sebelahnya terdapat galaksi tidak beraturan, yaitu NGC 5195. Kedua galaksi tersebut saling bersentuhan
menjauhi galaksi Bima Sakti dengan kecepatan yang sama, sehingga terletak pada jarak yang sama, yaitu + 14 juta tahun cahaya.

---> Galaksi Magellan atau Magelhaen atau Kabut Magellan (Magellanic Clouds) <---
Galaksi ini ditemukan pada tahun 1519 oleh Magelan. Letaknya di konstelasi Dorado dan Tucana. Kabut yang terang dan besar disebut Magellan Besar dan yang kecil disebut Magellan Kecil. Galaksi Magellan adalah salah satu galaksi yang terdekat dengan Bima Sakti, berjarak + 150.000 tahun cahaya.

-- Bintang --
merupakan benda langit yang mempunyai cahaya sendiri akibat reaksi inti di dalamnya. Cahaya bintang terdiri atas gas pijar yang mengeluarkan cahaya dengan warna berbeda, yaitu putih kebiru-biruan, merah, atau kekuning-kuningan. Menurut hukum fisika, bintang yang bercahaya putih kebiruan memiliki temperatur paling tinggi, semakin merah atau kuning maka temperatur semakin rendah.

link terkait:

Jagat Raya

Apakah yang dimaksud jagat raya?
Jagat raya adalah sebuah ruang tempat segenap benda langit berada.
Jagat Raya = alam semesta = COSMOS

1. Teori terbentuknya Jagat Raya
a. Big Bang Theory (Teori Dentuman Besar)
Menurut teori Big Bang, Jagat Raya terbentuk dari ledakan maha dahsyat yang terjadi sekitar 13.700 tahun yang lalu. Ledakan ini melontarkan materi dalam jumlah sangat besar yang kemudian mengisi jagat raya.
Teori ini dirintis pada tahun 1922 oleh Alexandra Friedman, seorang ahli fisik asal Rusia.

b. Steady State Theory (Teori Keadaan Tetap)
Teori ini dikemukakan oleh Fred Hoyle, Thomas Gold, dan Hermann Bondi, ahli astrofisika Inggris pada tahun 1948.
Menurut teori ini, jagat raya tidak hanya sama dalam ruang angkasa tetapi juga tidak berubah dalam waktu. Jagat raya bersifat tetap (statis) tidak ada permulaan dan akhir.

2. Pandangan Manusia tentang Jagat Raya
a. Pandangan Antroposentris
Pandangan ini berpendapat bahwa manusia adalah pusat segala alam semesta.
Bangsa Babilon (hidup sekitar 2.000 SM) menggambarkan alam semesta sebagai kubah tertutup, dimana bumi sebagai lantai yang di sekelilingnya terdapat lubang yang tergenang air, serta di seberang air terdapat gunung tinggi yang menyangga langit.

b. Pandangan Geosentris (Bumi sebagai pusat jagat raya)
Pandangan ini berkembang sekitar 600 SM.
Salah satu tokoh geosentris adalah Claudius Ptolemaeus (2200 SM). Teorinya dikenal dengan Sistem Geosentris (geo = tanah/bumi, centra = tengah /pusat).
Pada bukunya “Almagest”, Ptolemaeus mengemukakan bahwa:
pusat peredaran benda-benda antariksa adalah bumi. urutannya: Bumi, Bulan, Mercurius, Venus, Matahari, Mars, Yupiter, Saturnus, kemudian bintang-bintang.
Teorinya diakui oleh gereja Kristen setelah 200 tahun Ptolemaeus meninggal di Iskandaria (Alexandria di Mesir).

c. Pandangan Heliosentris
Pandangan ini berpendapat bahwa matahari merupakan pusat jagat raya.
Pelopor pandangan ini adalah Nicolas Copernicus (mahasiswa kedokteran, ilmu pasti, dan astronomi asal Jerman). Dalam bukunya berjudul De Revolusionibus Orbium Celestium (revolusi peredaran benda-benda langit) Copernicus menyebutkan bahwa matahari sebagai pusat peredaran, sedangkan benda-benda antariksa yang mengelilinginya adalah Merkurius, Venus, Bumi, Bulan, Mars, Yupiter, Saturnus, dan bintang.

d. Pandangan Galaktosentris
Pandangan ini merupakan perkembangan dari hasil kemajuan iptek, ditandai dengan dibangunnya teleskop raksasa di Amerika Serikat pada tahun 1920 agar dapat lebih banyak memberikan informasi mengenai galaksi.

3. Satuan Jarak di Jagat Raya
a. Satuan Astronomi (SA) = Astronomical Unit (AU)
adalah 1x jarak rata-rata Bumi – Matahari (+ 150.000.000 km).
SA biasa digunakan untuk menghitung jarak antar benda langit di tata surya.
→ 1 SA = 15 x 107 km ←

Contoh:
Jarak Saturnus – Matahari = 9,5 SA. Berapakah jaraknya dalam km?
Jawab:
Jarak saturnus – Matahari = 9,5 x 15.107 = 14,25.108 km

b. Tahun Cahaya
1 tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya selama 1 tahun.
Kecepatan rambat cahaya = 300.000 km/detik.
1 TC = 365 hari x 12 bulan x 30 hari x 24 jam x 60’ x 60” x 300.000 km/det
TC biasa digunakan untuk menghitung jarak antar bintang.
→ 1 TC = 3.406 x 1015 km ←

Contoh:
Alfa Centauri adalah bintang yang terdekat dengan Matahari berjarak 4,3 TC. Berapakah jaraknya dalam km?
Jawab:
Alfa Centauri – Matahari = 4,3 x (3.406 x 1015) = 146.458 x 1016 km

c. Paralaks Second
Paralaks adalah pergeseran sebuah benda yang sangat jauh bila dilihat oleh pengamat yang tempatnya bergeser terhadap benda, bukan karena bendanya yang bergeser.
Besarnya PC dinyatakan dalam satu detik busur (1/3600 derajat)

Jadi, → 1 Pc = 3,26 TC = 206.265 SA ←